Thursday, July 29, 2010

jendela

di dekat jendela
arus kata-kata dalam otakku mengalir tak terkendali
kadang melompat ke luar ke jalanan
kadang mengunci diri dalam ruangan
kadang hinggap saja di kaca dan menatap ke mana saja dia mau

di dekat jendela
arus kata-kata di kepalaku seperti arus listrik
dia bisa menyalakan lampu di langit-langit
bisa membunyikan radio di meja
bisa menyetrum semua orang yang mendekat ke pintuku

di dekat jendela
arus kata-kata dalam otakku
mengalir tak terkendali
seperti arus listrik
tak bisa kuhentikan

lagu

nyanyikanlah sebuah lagu untukku
nyanyikanlah sebuah lagu meski kau tak punya kata-kata yang indah
nyanyikanlah sebuah lagu meski kau tak punya seruling atau biola

nyanyikanlah untukku sebuah lagu
meski pagi belum merekah benar
meski burung-burung masih enggan berkicau

nyanyikanlah lagumu untukku
agar hangat telingaku mendengar suaramu
agar terangkat jiwaku dalam nadamu

nyanyikanlah sebuah lagu untukku
nyanyikan
nyanyikan saja apa yang sedang berdendang di dalam hatimu

Sunday, January 20, 2008

Bukan Hujan

Bila kau dengar gemericik berjatuhan
itu bukan hujan
itu rindu yang mewakili aku
menyapamu dalam setiap tetes di atas jendela.
lalu kau tanyakan lagi
"apa arti detik-detik tua yang berleleran
dekat tempat tidurku?"
ada jawaban yang tak akan kaupahami
meski harapan tak pernah sia-sia
jika kau percaya

Wednesday, December 26, 2007

incarnatio

"Yesus, Kau mau lahir di mana?"
begitu kata puisi yang di bacakan waktu malam natal kemarin.
Ini pertanyaan bukan untuk Yesus, tapi untuk para penghuni bumi ini. Dia datang mau mengisi hati manusia tapi ternyata sudah penuh. Tak ada ruang kosong lagi yang bisa dipakai untuk (sekedar) melahirkanNya. Jadi, Dia datang untuk apa? Ibaratnya memasuki rumah yang sudah penuh dengan barang tetek bengek sehingga sesudah melewati pintu tak bisa lagi bergerak. Ibaratnya kita diberi tangan untuk bertepuk, tapi kita tidak mau memberi yang sebelah lagi.
Ibaratnya, "aku sudah memainkan musik tapi kamu tidak menyanyi."

feliz navidad.

Sunday, November 18, 2007

amo ergo sum

Descartes pernah bilang "aku berpikir maka aku ada" (cogito ergo sum). Keberadaan dirinya sendiri , menurutnya terjadi karena dia berpikir dan menyangsikan segala sesuatu. Tapi, Heidegger bilang "Aku ada maka aku berpikir". Artinya, konsekuensi dari keberadaan dirinya adalah berpikir. Mau tidak mau.
Nah, entah nyambung atau tidak, aku juga berkata "amo ergo sum", aku mencintai maka aku ada.
aku memang sudah ada meski aku belum bisa mencintai. Tapi ketika aku tidak mencintai ketika aku sudah bisa melakukannya, aku seperti bangkai yang berjalan. Bau busuk. Betapa matinya dunia orang hidup ini ketika tidak ada cinta di dalamnya. Ketika aku sudah bisa mencintai, aku mencintai segala sesuatu yang tak kumengerti : hidupku, harapanku. Dan memang itulah yang membuatku ada. Bukan sekedar ada tetapi "ada".
Entahlah, aku memang baru tertarik untuk bicara tentang cinta. ah, amo ergo sum

Wednesday, November 7, 2007

Perputaran

Sudahlah. Tak usah kucari-cari makna yang serba semrawut dan ngalor ngidul tanpa kejelasan. Hidup sudah mengalir demikian indah dengan liku-liku yang begitu mengagumkan. Dunia sudah berputar sedemikian teratur : bumi yang diputari bulan mengelilingi matahari 365 kali dalam setahun bersama planet-planet lain yang lebih lambat atau lebih cepat daripada bumi ; galaksi bima sakti, entah mengelilingi sesuatu entah tidak, bergerak dan beraktivitas, apapun bentuknya. Dan aku, yang berdiri pada satu titik dalam semesta itu, mempunyai raga di mana beberapa hal di dalamnya juga berputar : darahku mengalir tanpa henti, nafasku (entah apa yang harus kukatakan tentangnya), proton-elektron-neutron tubuhku (yang belum pernah kulihat) juga berputar. Aku yang hanya titik dan mahasemesta yang luas ini mempunyai harmoni yang tak kupahami sendiri : perputaran. Maka kukatakan tadi, hidup ini sudah pada dirinya, dengan sendirinya. Tanpa harus dipahami maknanya. Tanpa harus dimengerti alurnya.