Descartes pernah bilang "aku berpikir maka aku ada" (cogito ergo sum). Keberadaan dirinya sendiri , menurutnya terjadi karena dia berpikir dan menyangsikan segala sesuatu. Tapi, Heidegger bilang "Aku ada maka aku berpikir". Artinya, konsekuensi dari keberadaan dirinya adalah berpikir. Mau tidak mau.
Nah, entah nyambung atau tidak, aku juga berkata "amo ergo sum", aku mencintai maka aku ada.
aku memang sudah ada meski aku belum bisa mencintai. Tapi ketika aku tidak mencintai ketika aku sudah bisa melakukannya, aku seperti bangkai yang berjalan. Bau busuk. Betapa matinya dunia orang hidup ini ketika tidak ada cinta di dalamnya. Ketika aku sudah bisa mencintai, aku mencintai segala sesuatu yang tak kumengerti : hidupku, harapanku. Dan memang itulah yang membuatku ada. Bukan sekedar ada tetapi "ada".
Entahlah, aku memang baru tertarik untuk bicara tentang cinta. ah, amo ergo sum
Sunday, November 18, 2007
Wednesday, November 7, 2007
Perputaran
Sudahlah. Tak usah kucari-cari makna yang serba semrawut dan ngalor ngidul tanpa kejelasan. Hidup sudah mengalir demikian indah dengan liku-liku yang begitu mengagumkan. Dunia sudah berputar sedemikian teratur : bumi yang diputari bulan mengelilingi matahari 365 kali dalam setahun bersama planet-planet lain yang lebih lambat atau lebih cepat daripada bumi ; galaksi bima sakti, entah mengelilingi sesuatu entah tidak, bergerak dan beraktivitas, apapun bentuknya. Dan aku, yang berdiri pada satu titik dalam semesta itu, mempunyai raga di mana beberapa hal di dalamnya juga berputar : darahku mengalir tanpa henti, nafasku (entah apa yang harus kukatakan tentangnya), proton-elektron-neutron tubuhku (yang belum pernah kulihat) juga berputar. Aku yang hanya titik dan mahasemesta yang luas ini mempunyai harmoni yang tak kupahami sendiri : perputaran. Maka kukatakan tadi, hidup ini sudah pada dirinya, dengan sendirinya. Tanpa harus dipahami maknanya. Tanpa harus dimengerti alurnya.
Subscribe to:
Comments (Atom)
